Archive for December 2nd, 2008
Gedankenexperiment
Gedankenexperiment berasal dari bahasa German yang berarti eksperimen atau percobaan pikiran. Pengertian ini mengacu kepada percobaan – percobaan yang hanya dilakukan dengan mengimajinasikan percobaan tersebut tanpa melakukannya secara empiris.
Dalam fisika, eksperimen pikiran merupakan suatu hal yang lumrah untuk dilakukan. Mengingat keterbatasan alat eksperimen yang mungkin untuk bisa dilakukan seorang ilmuwan, maka pendekatan imajinatif juga sah-sah saja untukĀ dilakukan. Salah satu contoh terkenal dalam fisika yaitu Schrodinger Cat (kucing Schrodinger). Pada awalnya adalah sebuah anekdot yang dikemukakan oleh Schrodinger untuk menyerang para fisikawan dengan mazhab Probabilistik. Seperti diketahui bahwa Schrodinger, Einstein, merupakan fisikawan mazhab deterministik yang tidak akan pernah sepakat dengan mazhab probabilistik yang terkenal dengan born interpretation nya. Padahal sampai sekarang tidak dapat dipungkiri bahwa perhitungan alam semesta hanya bisa dilakukan dengan pendekatan kemungkinan (probabilitas) dan kepastian perhitungan (deterministik) hanya sesuai untuk fisika klasik. Contoh lain yang saya baca pada sebuah buku sains misalkan jika kita mempunyai seribu planet dan meremas seribu planet tersebut menjadi sebesar kelereng, maka kita dapat membuat sebuah mesin waktu. Hal ini dikarenakan adanya kelengkungan ruang yang diakibatkan adanya distribusi energi (boleh dikatakan massa) yang sangat tinggi pada suatu titik.
Dalam kenyataannya, diperlukan suatu daya nalar yang tinggi dan pondasi teoritis bila kita ingin melakukan imajinasi sehingga bisa dikatan Gedankenexperiment. Saya pikir, pendekatan seperti ini merupakan hal yang sangat relevan untuk banyak dilakukan para ilmuwan di negara ini untuk mensiasati segala keterbatasan yang dimiliki. Maka, untuk pertama-tama daya imajinasi merupakan suatu hal yang mutlak tidak boleh dibatasi. Kedua, tidak perlu mengkritik para ilmuwan pribumi dengan alih-alih “bermain dengan suatu hal yang tidak membumi”.
“diakhir tulisan saya ingin mencoba bermain-main dengan eksperimen pikiran. Saya bayangkan jika seluruh laki-laki di Indonesia ditanya apakah anda memperhatikan tingkat pendidikan ketika mencari seorang calon Istri. Maka sebagian besar laki-laki Indonesia akan menjawab saya tidak mempertimbangkan tingkat pendidikan calon istri saya yang penting adalah istri saya baik, pengertian, dan sholehah. Kesimpulan yang saya ambil adalah berarti pendidikan di Indonesia gagal karena rakyatnya sendiri tidak percaya bahwa pendidikan bisa membawa orang menjadi seorang yang baik, pengertian dan sholeh. he..he…punten ah bercanda”