Archive for December 16th, 2008
BUBARKAN PSSI
Pernahkah masyarakat luas mengetahui berapa uang yang berputar dalam tubuh organisasi olah raga yang dinamakan PSSI. Uang ini berputar untuk penyelenggaraan turnament tahunan, pembinaan di luar negeri, operasional organisasi, dll. Pernahkan mempertanyakan kenapa posisi organisasi bernama PSSI diperebutkan banyak kalangan.
Tidak perlu sebuah survey dengan metode ilmiah yang sangat canggih untuk membuktikan bahwa sepak bola merupakan olah raga paling digemari di dunia. Kalau anda pergi ke daerah pelosok di negeri antah berantah ini pasti anda masih bisa melihat anak-anak kecil bertelanjang kaki menendang bola di lapangan-lapangan sawah kering, halaman rumah, lapangan sekolah reyot tanpa pagar, dll. Kalau sore hari anda melintasi lapangan parkir barat kampus ITB anda melihat anak-anak dengan sepatu seadanya menendang bola plastik di lapangan rumput bertuliskan “dilarang menginjak rumput” . Atau silahkan tanya kepada para pengelola lapangan futsal yang sangat menjamur di kota Bandung berapakah penghasilan mereka selama sebulan.
Suatu hal yang sangat wajar jika perhatian jutaan orang tertumpah pada sepak bola, maka berbagai hal yang berkaitan dengan bidang ini merupakan suatu hal yang strategis dan menguntungkan. Apakah kita pernah bertanya apakah seorang Taksin Sinawatra, Abramovich, Malcolm Glazer, dan Raja-raja Timur Tengah itu benar-benar mengucurkan dana jutaan dollar untuk sebuah hobi. Apakah tidak janggal ketika perusahaan-perusahaan rokok berlomba-lomba untuk mensponsori orang-orang yang tidak merokok. Apakah logis ketika seorang politikus yang saya curiga tidak tahu-menahu apa namanya offside berani berkata INDONESIA TAHUN 2000 SEKIAN MASUK PIALA DUNIA!!!.
Sekarang beralih ke pembahasan awal, apa untungnya mempertahankan formasi yang ada sekarang dalam tubuh PSSI. Berikut adalah apa yang bisa dilihat kasat mata dari PSSI.
- Organisasi yang dikendalikan di balik penjara. Pak RT saja bisa kurus mengurusi sekitar 40 kepala keluarga, apalagi PSSI yang merupakan organisasi nasional berani diurus di balik penjara.
- Kompetisi nasional tidak bisa dibedakan dengan kompetisi tingkat antar kampung. Saya sempat tidak terbayang jikalau Highbury merupakan salah satu stadion milik salah satu klub di Indonesia. Jarak penonton dan pemain yang hanya dalam jangkauan beberapa meter sangat memungkinkan kalau ada pemain tamu dihajar salah satu penonton. Ingat penyelenggaraan kompetisi merupakan kewajiban PSSI.
- Banyak mengeluarkan keputusan instan. Misalkan untuk mengirimkan tim U-20 ke negeri Belanda dan Argentina. Kenyataannya dimanakah para pemain hasil didikan Belanda dan Argentina tersebut. Tim muda Indonesia bisa membusungkan dada pada event Piala Danone, tetapi setelah para pemain beranjak dewasa mereka tidak bisa dibedakan dengan pemain lainnya yang emosional dan kasar. Permasalahannya putusnya pembinaan pemain muda menjadi tanggung jawab siapa kalau bukan PSSI.
- Kebijakan yang tidak konsisten tetapi ambisius. Masih ingatkah anda dengan apa yang dinamakan Liga Super Indonesia (LSI) dengan standar bla-bla-bla (stadion standar internasional, pelatih bersertifikat, dll) malah hanya menjadi liga dengan standar blah-bleh-bloh.
Itulah yang bisa kita lihat dengan pengambil kebijakan terbesar dalam keberlangsungan sepak bola nasional kita. Untuk apa mempertahankan PSSI selain untuk melatih kesabaran kita. Tapi ini tidak tepat juga bila dinamakan kesabaran, yang tepat adalah kedangkalan rohani untuk tidak peka.
Pesantren Kilat
Suatu hal yang paling diingat dari pemerintahan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yaitu pengeluaran Dekrit Presiden dan libur penuh selama bulan Ramadhan. Bila mengingat libur bulan ramadhan maka muncul ingatan kembali dengan sebuah istilah yang tiba-tiba populer saat itu yaitu Pesantren Kilat.
Waktu itu kalau tidak salah saya masih duduk di bangku kelas 2 SMP (tahun 2001). Orang tua dan beberapa keluarga menyuruh saya dan dua sepupu saya yang dua tahun lebih tua untuk mengisi libur puasa dengan belajar di sebuah pesantren tradisional di Cililin daerah selatan kabupaten Bandung. Menarik, karena pesantren kilat yang kami jalani tidak seperti pesantren kilat yang biasa saya kenal. Saya masuk dalam pesantren “beneran”, ada Pak Kiayi dan Santri, ada asrama santri (istilahnya kobong), penuh kegiatan dengan agenda keagamaan. Sebagian besar santri yang saya temui tidak mempunyai latar belakang pendidikan yang bagus dalam pendidikan formal dan sebagian dari mereka benar-benar memutuskan bahwa pendidikannya ditempuh di jalur Pesantren. Kami benar-benar akan masuk dalam suatu lingkungan yang berbeda dari lingkungan masing-masing.
Kemudian masuklah kami ke pesantren dengan diantarkan oleh kakek yang kebetulan salah satu tokoh masyarakat juga disana dan “dititipkan” ke Pak Kiayi. “Pak, punten pang didikeun we ieu pun incu sabulan ieumah” mungkin itu kira-kira ucapan kakek saya ke pak kiayi. Sebetulnya dibandingkan dengan kedua sepupu saya modal saya untuk belajar di pesantren jauh lebih baik. Dengan sedikit modal tajwid, hafal beberapa surat juz-amma, fasih dalam surat Yasin, pernah belajar kitab kuning safinah, jurumiyah, beberapa bacaan-bacaan umum seperti ayat qursi, do’a-do’a sehari-hari menjadi sedikit selling point saya bila dibandingkan dengan kedua sepupu saya. Sementara kedua sepupu saya memang di kenal sebagai bad boys dalam lingkungan keluarga dan posisi saya disitu sebagai good boy. Bahkan salah satunya sampai harus berpindah-pindah sekolah untuk menamatkan SMA-nya dimulai BPI 2 Bandung terakhir lulus di sebuah SMA di daerah Ragunan.
Tidak banyak yang saya ingat dengan apa yang saya dapat dari pesantren kilat tersebut. Hampir setiap pagi-pagi kami harus berjalan sekitar satu kilometer karena kami memutuskan untuk tinggal di rumah kakek dan hanya sekali-kali tinggal di kobong untuk ikut sama-sama shalat subuh berjamaah. Shalat subuh jadi agenda yang mengawali hari tapi santri yang tinggal di kobong biasa untuk mengaji terlebih dahulu. Satu kebiasaan yang baru saya lihat adalah “ritual” untuk membaca ayat qursi ke empat arah mata angin sehabis shalat (saya lupa isya atau subuh), saya tidak pernah bertanya ke pak kiayi atau santri-santri disana mengenai apa tujuan dan dasarnya tapi ibu saya pernah bilang kalau itu mungkin sebagai sebuah do’a keselamatan saja. Salah satu santri yang paling akrab adalah salah satu anaknya pak kiayi. Tapi bayangan saya mengenai sosok anak seorang kiayi berbeda dengan apa yang saya lihat, agenda rutin yang biasa dilakuin adalah ngerokok bareng (mungkin itu yang membuat kami akrab, tapi saya tidak merokok waktu itu). Santri-santri yang lain memang segan dengan anak pak kiayi ini, selain posisi dia sebagai anak pak kiayi yang membuat orang segan adalah desas-desus dia orang yang paling “jago” berkelahi dan punya semacam ilmu kebal (entah ilmu apa ini, yang pasti saya belum pernah melihatnya langsung). Padahal cuman sekali saya ngeliat langsung dia berkelahi, waktu itu sehabis jumatan kita ngadu bola dengan anak-anak santri pesantren lain dan dia terlibat perkelahian. Waktu itu sama sekali saya tidak melihat adanya pertunjukan seperti di film si Pitung apalagi yang saya lihat di film Dragon Ball. Tapi dibalik “kenakalannya” dia memang rajin shalat, tidak minum alkohol, dan enak didengar kalau membaca ayat Al-Quran. Pergaulan dengan para santri pun masih enak untuk diikuti, tema obrolan kami tidak jauh-jauh dari obrolan mengenai santri perempuan. Walaupun asrama berbeda antara laki-laki dan perempuan tapi sekali-kali ketika pemberian materi harus dilakukan Pak Kiayi secara langsung baik materi aqidah, akhlak, piqih maupun tauhid maka laki-laki dan perempuan berada dalam satu ruangan besar dan tidak ada hijab disana. Walaupun masih terkendali tapi saya bisa tahu mana yang jadi objek obrolan santri-santri laki-laki.
Dari segi fisik, yang saya ingat adalah santri-santri harus mengambil wudlu di sebuah kolam besar bersama-sama dan dibelakang pesantren ada pekuburan. Saya ingat kerena satu sepupu saya sangat penakut dengan hal-hal yang berbau mistis padahal sering para kami dan temen-temen lain ngaliwet bareng di deket kuburan dengan modal ikan asin, beras hasil patungan, bahan sambel yang dipetik sendiri, daun pisang untuk alas nasi, dan tungku yang dibuat sendiri (istilahnya hawu). Asrama pria pun sebenarnya jauh dari kata layak. Jangan heran kalau anak pesantren familiar dengan istilah tumbila, koreng, dll. Karena memang fasilitas dibangun dengan modal dari santri yang berasal dari kalangan ekonomi rendah dan sangat jarang berasal dari hibah apalagi pemerintah.
Dari kesemua kegiatan yang tampak remeh tersebut sebetulnya saya meyakini bahwa itu membantu saya dalam pembentukan pribadi. Semua orang dapat bisa mendapatkan porsi yang berbeda dari apa yang mereka alami. Tapi saya merasakan bahwa lingkungan yang dialami di pesantren tradisional sangat humanis.