Hidden Variables

We Learn not for School but for LIfe

BUBARKAN PSSI

with 3 comments

Pernahkah masyarakat luas mengetahui berapa uang yang berputar dalam tubuh organisasi olah raga yang dinamakan PSSI. Uang ini berputar untuk penyelenggaraan turnament tahunan, pembinaan di luar negeri, operasional organisasi, dll. Pernahkan mempertanyakan kenapa posisi organisasi bernama PSSI diperebutkan banyak kalangan.

Tidak perlu sebuah survey dengan metode ilmiah yang sangat canggih untuk membuktikan bahwa sepak bola merupakan olah raga paling digemari di dunia. Kalau anda pergi ke daerah pelosok di negeri antah berantah ini pasti anda masih bisa melihat anak-anak kecil bertelanjang kaki menendang bola di lapangan-lapangan sawah kering, halaman rumah, lapangan sekolah reyot tanpa pagar, dll. Kalau sore hari anda melintasi lapangan parkir barat kampus ITB anda melihat anak-anak dengan sepatu seadanya menendang bola plastik di lapangan rumput bertuliskan “dilarang menginjak rumput” . Atau silahkan tanya kepada para pengelola lapangan futsal yang sangat menjamur di kota Bandung berapakah penghasilan mereka selama sebulan.

Suatu hal yang sangat wajar jika perhatian jutaan orang tertumpah pada sepak bola, maka berbagai hal yang berkaitan dengan bidang ini merupakan suatu hal yang strategis dan menguntungkan. Apakah kita pernah bertanya apakah seorang Taksin Sinawatra, Abramovich, Malcolm Glazer, dan Raja-raja Timur Tengah itu benar-benar mengucurkan dana jutaan dollar untuk sebuah hobi.  Apakah tidak janggal ketika perusahaan-perusahaan rokok berlomba-lomba untuk mensponsori orang-orang yang tidak merokok. Apakah logis ketika seorang politikus yang saya curiga tidak tahu-menahu apa namanya offside berani berkata INDONESIA TAHUN 2000 SEKIAN MASUK PIALA DUNIA!!!.

Sekarang beralih ke pembahasan awal, apa untungnya mempertahankan formasi yang ada sekarang dalam tubuh PSSI. Berikut adalah apa yang bisa dilihat kasat mata dari PSSI.

  1. Organisasi yang dikendalikan di balik penjara. Pak RT saja bisa kurus mengurusi sekitar 40 kepala keluarga, apalagi PSSI yang merupakan organisasi nasional berani diurus di balik penjara.
  2. Kompetisi nasional tidak bisa dibedakan dengan kompetisi tingkat antar kampung. Saya sempat tidak terbayang jikalau Highbury merupakan salah satu stadion milik salah satu klub di Indonesia. Jarak penonton dan pemain yang hanya dalam jangkauan beberapa meter sangat memungkinkan kalau ada pemain tamu dihajar salah satu penonton. Ingat penyelenggaraan kompetisi merupakan kewajiban PSSI.
  3. Banyak mengeluarkan keputusan instan. Misalkan untuk mengirimkan tim U-20 ke negeri Belanda dan Argentina. Kenyataannya dimanakah para pemain hasil didikan Belanda dan Argentina tersebut. Tim muda Indonesia bisa membusungkan dada pada event Piala Danone, tetapi setelah para pemain beranjak dewasa mereka tidak bisa dibedakan dengan pemain lainnya yang emosional dan kasar. Permasalahannya putusnya pembinaan pemain muda menjadi tanggung jawab siapa kalau bukan PSSI.
  4. Kebijakan yang tidak konsisten tetapi ambisius. Masih ingatkah anda dengan apa yang dinamakan Liga Super Indonesia (LSI) dengan standar bla-bla-bla (stadion standar internasional, pelatih bersertifikat, dll) malah hanya menjadi liga dengan standar blah-bleh-bloh.

Itulah yang bisa kita lihat dengan pengambil kebijakan terbesar dalam keberlangsungan sepak bola nasional kita. Untuk apa mempertahankan PSSI selain untuk melatih kesabaran kita. Tapi ini tidak tepat juga bila dinamakan kesabaran, yang tepat adalah kedangkalan rohani untuk tidak peka.

Written by Anggia Riksa

December 16, 2008 at 4:13 pm

Posted in Humaniora

3 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. memang benar PSSI sudah bermuluk-muluk dan ujung-ujungnya merugikan klub

    … bikin baru …

    jurnalis

    December 16, 2008 at 11:22 pm

    • ketika PSSI harus berurusan dengan FIFA kemarin, sebetulnya merupakan momentum bagus untuk merombak total. Sayang tidak semua klub berkomitmen menuju perubahan yang signifikan….

      neokorteks

      December 17, 2008 at 4:51 am

  2. saya juga penggemar bola
    tapi cuman nonton kalau Piala Dunia aja
    yang paling berkesan waktu Piala Dunia 2002 ..
    Kalo ngeliat sepak bola dalam negeri, jujur aja saya gak terlalu suka. Soalnya udah ke-frame duluan bakalan anarkis dan ngeliat lapangan rumputnya aja males.
    yang lainnya, saya gak ngerti.

    arditafanisa

    December 18, 2008 at 3:30 am


Leave a Reply