KAMUS REALITA DUNIA
Suatu pagi dibulan Ramadhan aku terbangun oleh gedoran pintu kamar. Mata masih merah dengan pandangan berbayang, rambut acak-acakan dan masih berbalut sarung. Tiba-tiba seorang dengan rambut sebahu dan senyum yang tak pernah kulupakan berada dalam jangkauan pandang. Ternyata itu kamu, seorang yang beberapa tahun hilang ditelan bumi. Dulu aku ke rumah mu, tapi orang tua mu pun tak tahu dimana keberadaanmu. Dulu aku ke sekolahmu, tapi teman-temanmu hanya tahu kamu yang aktivis sekolah menghilang tanpa memberi kabar.
Beberapa saat aku hanya bisa bengong, entah karena pikiran masih melayang atau memang tak menyangka bisa bertemu kamu di Rumah ini. Kemana saja kamu selama ini adalah pertanyaan pertamaku. Aku hanya tahu dari orang tuamu bahwa sebuah pertengkaran hebat antara kau dan ayahmu adalah pemicu kau kabur dari rumah. Aku hanya tahu dari teman-temanmu bahwa kau sama sekali tidak pamit dari mereka dan kau keluar sekolah tanpa alasan. Ternyata selama ini kamu perpindah-pindah dari Tangerang sampai ke Surabaya tanpa suatu kejelasan dan dengan satu tujuan yaitu menghindar dari duniamu di masa lalu.
Dulu kamu adalah seorang anak yang cerdas, berpenampilan menarik dan populer di sekolah. Dulu aku tahu bahwa kamu punya permasalahan keluarga, tapi aku tahu bahwa permasalahan itulah justru yang membuat kita bisa bertemu dan akrab. Tapi aku tidak menyangka bahwa permasalahan “kecil” itu adalah alasan yang membuatmu memutuskan untuk menghancurkan masa depanmu. Aku ingin meyakinkanmu bahwa “PERMASALAHAN YANG KAMU HADAPI ADALAH SEBUAH PERMASALAHAN KECIL !!!”. Bahkan aku dengan percaya diri dapat mengatakan “permasalahan yang aku hadapi jauh lebih berat daripada yang kamu hadapi !!!”, hanya karena begitu “culasnya” aku sehingga kamu tidak tahu dan tidak bisa mengambil hikmah dariku. Semua orang di dunia ini mempunyai masalah, begitu juga dengan aku. Kamu tidak bisa menilai kebahagiaan seseorang hanya dengan melihat dari senyum mereka. Aku ulangi, semua orang di dunia mempunyai permasalahannya masing-masing begitu juga dengan aku. Kamu telah mengambil sebuah titik ekstrim karena suatu hal yang “sepele”. Resiko yang kamu ambil tidak sepadan dengan jalan yang kamu putuskan. Memang, sekolahmu tidak mengajarkanmu untuk menghadapi duniamu. Pelajaran sekolahmu tidak ada sangkut pautnya dengan permasalahanmu. Tapi disana kamu bisa mendapatkan banyak teman. Seorang yang akan menemanimu ketika kamu berada pada titik terendah. Kenapa selama ini kamu tidak tahu atau tidak menyadari akan hal itu. Kamu harus tahu, itulah satu-satunya manfaat sekolahmu.
Sekarang apa yang kamu rasakan setelah melakukan hal itu. Sorot matamu menjawab bahwa kamu hanya bisa menyesal. Sekarang aku hanya bisa meyakinkanmu bahwa kamu tidak perlu menyesali semua itu. Kata “menyesal” hanya ada dalam kamus akhirat, tapi tidak ada kata itu dalam kamus realita dunia. Rekonstruksi kembali hidupmu, tetap optimis dengan masa depanmu, optimalkan kecerdasan yang dulu kamu perlihatkan kepadaku, kembalilah ke keluargamu, carilah teman sebanyak-banyaknya, dan pelajarilah masyarakatmu. Sekarang aku belum bisa membantumu secara konkret, tapi aku masih bisa berdoa untukmu. Di akhir aku ingin menekankan bahwa permasalahanmu adalah permasalahan kecil.
Wah,sangat menarik..
Memang ketika ada orang yg tdk menyadari bahwa dia tdk sendirian dalam menghadapi masalah kita menjadi demikian kesalnya..saya juga merasakannya..
Semoga teman kamu cpt kembali ya..
agustin
July 1, 2009 at 6:30 pm