Archive for the ‘Humaniora’ Category
Irasionalitas Kopi dan Rokok
Apakah yang dimaksud dengan nicotin dan caffein? Masyarakat umum begitu juga dengan saya mengenal nicotin dan caffein sebagai sebuah zat yang terkandung dalam rokok dan kopi. Konotasi kopi dan rokok terhadap gender laki-laki memang merupakan hal yang wajar dikarenakan mayoritas pengkonsumsi kopi dan rokok memang berasal dari kaum adam. Di Indonesia,kebiasaan merokok dan ngopi sudah menempati tingkat yang memprihatinkan. Di kota-kota besar bahkan di daerah, melihat seorang anak berseragam putih-biru bahkan anak di bawah usia itu merokok di tempat umum sudah merupakan fenomena yang lumrah. Perusahaan-perusahaan rokok seperti PT Sampoerna, PT Gudang Garam, PT Djarum merupakan perusahaan besar di Indonesia. Ribuan kepala keluarga di pulau Jawa banyak yang menggantungkan hidupnya dari pertanian tembakau dan tukang linting rokok jenis kretek.
PERINGATAN PEMERINTAH
MEROKOK DAPAT MENYEBABKAN KANKER, SERANGAN JANTUNG, IMPOTENSI DAN GANGGUAN KEHAMILAN DAN JANIN
Peringatan pemerintah di atas selalu tercantum dalam sebuah bungkus rokok maupun dalam iklan rokok yang bersifat implisit. Akan tetapi, peringatan tersebut tidak pernah menjadi sebuah kebijakan dengan sifat larangan pemerintah karena berbagai dilema baik pada tingkat perekonomian maupun kultural. Lain hal nya dengan kopi yang mengandung caffein, caffein dikonotasikan sebagai obat anti ngantuk. Saya beri kata “konotasi” karena sayapun tidak tahu apakah hal tersebut sudah terbukti secara empiris atau belum. Tetapi kopi tidak terlalu berbahaya bila tidak dikonsumsi secar berlebihan. Dalam sebuah artikel yang saya baca menyatakan bahwa kopi tidak akan berakibat buruk apabila tidak dikonsumsi melebihi tujuh gelas perhari. Konotasi kopi sebagai teman bergadang dalam masyarakat kita merupakan hal yang dikenal.
Sebagai seorang masyarakat biasa yang hidup dalam lingkungan maskulin, keseharian sayapun tidak jauh dari kebiasaan merokok dan ngopi. Saya mulai intens untuk merokok dan menikmati kopi sejak menyandang title mahasiswa. Bagi saya sebetulnya merupakan sebuah prestasi sendiri untuk “telat merokok” mengingat saya tumbuh dalam lingkungan keluarga perokok dan sudah bergaul dengan teman-teman perokok sejak SMP. Setiap pagi saya saya punya ritual sendiri dengan pergi ke warung untuk membeli setidaknya tiga batang rokok dan sebungkus kopi. Bagi saya merokok dan ngopi masih merupakan kegiatan yang irasional. Saya tahu bagaimana dampak rokok dan kopi berlebihan, tetapi saya memutuskan untuk tetap merokok dan ngopi. Saya masih menggunakan kata “memutuskan” karena saya tahu bahwa ini mutlak pilihan yang saya ambil. Untuk berhenti merokok dan ngopi bisa datang dengan sebuah tekad yang kuat. Saya tidak percaya hanya karena sebuah zat yang mengendap dalam tubuh saya dapat mempengaruhi saya dalam perilaku sosial saya dan terhadap setiap keputusan saya. Intinya saya tidak percaya bahwa sebuah konsekuensi fisis dapat mempengaruhi sesuatu hal yang harusnya merupakan konsekuensi sosial. Tapi mencari tekad inilah yang sulit dan memerlukan intervensi eksternal yang memungkinkan.
Dulu dan mungkin sampai sekarang saya melihat ketika ibu saya memberikan sebuah “tips” untuk pekerja kasar entah itu tukang angkut barang dan lain-lain selalu menggunakan kalimat “terima kasih dan ini tambahan buat rokok”. Ketika rumah sedang direnovasi atau dicat ulang, maka sajian wajib yang tersedia untuk pekerja adalah rokok dan kopi. Ketika tukang becak sedang menunggu penumpang, maka kegiatan yang sering saya lihat selain mereka tidur di beca adalah merokok dan ngopi. Begitu pula yang dilakukan para supir angkot, preman pasar, calo terminal, waria di taman, tidak dapat lepas dari merokok dan ngopi. Dulu saya sempat berpikir, kenapa para pekerja kelas bawah itu tidak memanfaatkan uangnya untuk membeli makanan atau pakaian daripada sekedar untuk membeli rokok dan kopi. Mereka dengan pendapatan pas-pasan bahkan kurang hanya menghabiskan uang mereka yang dapat mereka tabung untuk sekedar kopi dan rokok. Tetapi saya sekarang dapat memahami mereka tetapi belum bisa menjelaskan. Ketika suatu malam uang di kantong tinggal empat ribu dan dalam keadaan kelaparan. Saya memutuskan untuk pergi ke warung membeli dua batang samsoe dan dua bungkus kopi susu daripada untuk membeli roti atau mie.
BUBARKAN PSSI
Pernahkah masyarakat luas mengetahui berapa uang yang berputar dalam tubuh organisasi olah raga yang dinamakan PSSI. Uang ini berputar untuk penyelenggaraan turnament tahunan, pembinaan di luar negeri, operasional organisasi, dll. Pernahkan mempertanyakan kenapa posisi organisasi bernama PSSI diperebutkan banyak kalangan.
Tidak perlu sebuah survey dengan metode ilmiah yang sangat canggih untuk membuktikan bahwa sepak bola merupakan olah raga paling digemari di dunia. Kalau anda pergi ke daerah pelosok di negeri antah berantah ini pasti anda masih bisa melihat anak-anak kecil bertelanjang kaki menendang bola di lapangan-lapangan sawah kering, halaman rumah, lapangan sekolah reyot tanpa pagar, dll. Kalau sore hari anda melintasi lapangan parkir barat kampus ITB anda melihat anak-anak dengan sepatu seadanya menendang bola plastik di lapangan rumput bertuliskan “dilarang menginjak rumput” . Atau silahkan tanya kepada para pengelola lapangan futsal yang sangat menjamur di kota Bandung berapakah penghasilan mereka selama sebulan.
Suatu hal yang sangat wajar jika perhatian jutaan orang tertumpah pada sepak bola, maka berbagai hal yang berkaitan dengan bidang ini merupakan suatu hal yang strategis dan menguntungkan. Apakah kita pernah bertanya apakah seorang Taksin Sinawatra, Abramovich, Malcolm Glazer, dan Raja-raja Timur Tengah itu benar-benar mengucurkan dana jutaan dollar untuk sebuah hobi. Apakah tidak janggal ketika perusahaan-perusahaan rokok berlomba-lomba untuk mensponsori orang-orang yang tidak merokok. Apakah logis ketika seorang politikus yang saya curiga tidak tahu-menahu apa namanya offside berani berkata INDONESIA TAHUN 2000 SEKIAN MASUK PIALA DUNIA!!!.
Sekarang beralih ke pembahasan awal, apa untungnya mempertahankan formasi yang ada sekarang dalam tubuh PSSI. Berikut adalah apa yang bisa dilihat kasat mata dari PSSI.
- Organisasi yang dikendalikan di balik penjara. Pak RT saja bisa kurus mengurusi sekitar 40 kepala keluarga, apalagi PSSI yang merupakan organisasi nasional berani diurus di balik penjara.
- Kompetisi nasional tidak bisa dibedakan dengan kompetisi tingkat antar kampung. Saya sempat tidak terbayang jikalau Highbury merupakan salah satu stadion milik salah satu klub di Indonesia. Jarak penonton dan pemain yang hanya dalam jangkauan beberapa meter sangat memungkinkan kalau ada pemain tamu dihajar salah satu penonton. Ingat penyelenggaraan kompetisi merupakan kewajiban PSSI.
- Banyak mengeluarkan keputusan instan. Misalkan untuk mengirimkan tim U-20 ke negeri Belanda dan Argentina. Kenyataannya dimanakah para pemain hasil didikan Belanda dan Argentina tersebut. Tim muda Indonesia bisa membusungkan dada pada event Piala Danone, tetapi setelah para pemain beranjak dewasa mereka tidak bisa dibedakan dengan pemain lainnya yang emosional dan kasar. Permasalahannya putusnya pembinaan pemain muda menjadi tanggung jawab siapa kalau bukan PSSI.
- Kebijakan yang tidak konsisten tetapi ambisius. Masih ingatkah anda dengan apa yang dinamakan Liga Super Indonesia (LSI) dengan standar bla-bla-bla (stadion standar internasional, pelatih bersertifikat, dll) malah hanya menjadi liga dengan standar blah-bleh-bloh.
Itulah yang bisa kita lihat dengan pengambil kebijakan terbesar dalam keberlangsungan sepak bola nasional kita. Untuk apa mempertahankan PSSI selain untuk melatih kesabaran kita. Tapi ini tidak tepat juga bila dinamakan kesabaran, yang tepat adalah kedangkalan rohani untuk tidak peka.