Archive for the ‘Pendidikan’ Category
Dinding Corat-Coret
Kini ada salah satu tembok di Rumah Belajar KM-ITB Sangkuriang (Rubel) yang cukup eye catching dan memang benar-benar mencolok mata. Tembok ini kita namakan Dinding Corat-Coret. Kita beri embel-embel corat-coret karena pada dasarnya setiap orang di Rubel bebas untuk corat-coret apa saja disini. Bisa dalam bentuk tulisan, gambar, dll. Kita hanya mempunyai satu aturan, yaitu tidak diperkenankan untuk menimpa coretan orang lain. Setelah tanggal 18 Januari 2009 dinding corat-coret ini diperkenalkan kepada anak-anak Rubel, dalam tempo hitungan jam dinding ini sudah mulai penuh. Ada yang menulis nama, cita-cita, ngegambar, propaganda, sekedar ngecat ekspresif, dll. Bagi saya hal ini mengindikasikan semua pihak di Rubel cukup responsif dan apresiatif dengan adanya tembok corat-coret ini. Dengan usia anak-anak Rubel yang masih sekitar sekolah dasar, mencoret tembok masih merupakan hal yang tidak lumrah dan tidak p0pulis. Hal ini terlihat dengan masih “sepinya” tembok ini dari coretan pada jam-jam pertama tembok ini kami perkenalkan. Tetapi ketika diberi pengertian bahwa tidak bermasalah untuk mengekspresikan apa yang mereka mau di tembok ini, maka tembok ini sudah mulai dipenuhi “coretan”.

seorang anak sedang mengisi dinding corat-coret
Pada dasarnya adanya dinding corat-coret ini ditujukan agar anak lebih ekspresif. Mereka mungkin berpikir ulang, ketika di Rumah mereka ingin nyorat-nyoret tembok, bermain tanah, dll tapi takut dimarahi orang tua mereka. Tapi dengan adanya dinding ini, mereka difasilitasi untuk melakukan apa yang mereka tidak mungkin lakukan di Rumah mereka. Pada kenyataannya memang keluarga dan lingkungan mereka sangat membatasi mereka. Padahal bila ditarik lebih esensial, tidak ada hal negatif dari sekedar mencorat-coret tembok selain mencoba lebih ekspresif. Setiap anak pada dasarnya tidak perlu di bendung sifat ekspresifnya. Seperti kata salah satu iklan detergen “ga kotor ya ga belajar”. Setiap anak mempunyai kecenderungan untuk mengekspresikan apa yang mereka lakukan. mereka benar-benar tidak memperhatikan variabel luar sebagai acuan mereka. Perhatikan anak usia dini di lingkungan keluarga anda ketika mereka mempunyai pena atau alat gambar, mereka akan menggambar atau mencoret sesuatu hal yang tidak jelas dimana saja. Sebagian besar sikap orang tua akan melarang mereka untuk melakukan itu. Anak yang melakukannya justru dicap sebagai “anak bandel”. Sebuah larangan yang sangat lumrah, tetapi bagi seorang anak hal ini justru akan mengeneralisasikan larangan tersebut sebagai suatu pembatasan yang lebih besar lagi. Mereka akan merasa “dijeruji” dalam berkelakuan dan bersikap, dan suatu saat pembatasan inilah yang justru membuat mereka memberontak.
Mungkin anda akan berpikir apakah hal ini tidak dihawatirkan akan menggiring sikap ekstrim bagi anak-anak untuk mencoret tembok-tembok umum. Mereka hidup dalam lingkungan secara lebih luas dan terikat dengan norma atau nilai yang ada dalam masyarakatnya. Mereka akan tersadar bahwa ada sikap yang perlu dibatasi dan disesuaikan. Akan tetapi perlu diingat, dinding corat-coret ini memang diadakan untuk memfasilitasi mereka untuk lebih ekspresif dan sikap ekspresif ini mutlak diperlukan dalam perkembangan manusia. Bukan untuk menggiring mereka untuk bersikap vandalis.
Pesantren Kilat
Suatu hal yang paling diingat dari pemerintahan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yaitu pengeluaran Dekrit Presiden dan libur penuh selama bulan Ramadhan. Bila mengingat libur bulan ramadhan maka muncul ingatan kembali dengan sebuah istilah yang tiba-tiba populer saat itu yaitu Pesantren Kilat.
Waktu itu kalau tidak salah saya masih duduk di bangku kelas 2 SMP (tahun 2001). Orang tua dan beberapa keluarga menyuruh saya dan dua sepupu saya yang dua tahun lebih tua untuk mengisi libur puasa dengan belajar di sebuah pesantren tradisional di Cililin daerah selatan kabupaten Bandung. Menarik, karena pesantren kilat yang kami jalani tidak seperti pesantren kilat yang biasa saya kenal. Saya masuk dalam pesantren “beneran”, ada Pak Kiayi dan Santri, ada asrama santri (istilahnya kobong), penuh kegiatan dengan agenda keagamaan. Sebagian besar santri yang saya temui tidak mempunyai latar belakang pendidikan yang bagus dalam pendidikan formal dan sebagian dari mereka benar-benar memutuskan bahwa pendidikannya ditempuh di jalur Pesantren. Kami benar-benar akan masuk dalam suatu lingkungan yang berbeda dari lingkungan masing-masing.
Kemudian masuklah kami ke pesantren dengan diantarkan oleh kakek yang kebetulan salah satu tokoh masyarakat juga disana dan “dititipkan” ke Pak Kiayi. “Pak, punten pang didikeun we ieu pun incu sabulan ieumah” mungkin itu kira-kira ucapan kakek saya ke pak kiayi. Sebetulnya dibandingkan dengan kedua sepupu saya modal saya untuk belajar di pesantren jauh lebih baik. Dengan sedikit modal tajwid, hafal beberapa surat juz-amma, fasih dalam surat Yasin, pernah belajar kitab kuning safinah, jurumiyah, beberapa bacaan-bacaan umum seperti ayat qursi, do’a-do’a sehari-hari menjadi sedikit selling point saya bila dibandingkan dengan kedua sepupu saya. Sementara kedua sepupu saya memang di kenal sebagai bad boys dalam lingkungan keluarga dan posisi saya disitu sebagai good boy. Bahkan salah satunya sampai harus berpindah-pindah sekolah untuk menamatkan SMA-nya dimulai BPI 2 Bandung terakhir lulus di sebuah SMA di daerah Ragunan.
Tidak banyak yang saya ingat dengan apa yang saya dapat dari pesantren kilat tersebut. Hampir setiap pagi-pagi kami harus berjalan sekitar satu kilometer karena kami memutuskan untuk tinggal di rumah kakek dan hanya sekali-kali tinggal di kobong untuk ikut sama-sama shalat subuh berjamaah. Shalat subuh jadi agenda yang mengawali hari tapi santri yang tinggal di kobong biasa untuk mengaji terlebih dahulu. Satu kebiasaan yang baru saya lihat adalah “ritual” untuk membaca ayat qursi ke empat arah mata angin sehabis shalat (saya lupa isya atau subuh), saya tidak pernah bertanya ke pak kiayi atau santri-santri disana mengenai apa tujuan dan dasarnya tapi ibu saya pernah bilang kalau itu mungkin sebagai sebuah do’a keselamatan saja. Salah satu santri yang paling akrab adalah salah satu anaknya pak kiayi. Tapi bayangan saya mengenai sosok anak seorang kiayi berbeda dengan apa yang saya lihat, agenda rutin yang biasa dilakuin adalah ngerokok bareng (mungkin itu yang membuat kami akrab, tapi saya tidak merokok waktu itu). Santri-santri yang lain memang segan dengan anak pak kiayi ini, selain posisi dia sebagai anak pak kiayi yang membuat orang segan adalah desas-desus dia orang yang paling “jago” berkelahi dan punya semacam ilmu kebal (entah ilmu apa ini, yang pasti saya belum pernah melihatnya langsung). Padahal cuman sekali saya ngeliat langsung dia berkelahi, waktu itu sehabis jumatan kita ngadu bola dengan anak-anak santri pesantren lain dan dia terlibat perkelahian. Waktu itu sama sekali saya tidak melihat adanya pertunjukan seperti di film si Pitung apalagi yang saya lihat di film Dragon Ball. Tapi dibalik “kenakalannya” dia memang rajin shalat, tidak minum alkohol, dan enak didengar kalau membaca ayat Al-Quran. Pergaulan dengan para santri pun masih enak untuk diikuti, tema obrolan kami tidak jauh-jauh dari obrolan mengenai santri perempuan. Walaupun asrama berbeda antara laki-laki dan perempuan tapi sekali-kali ketika pemberian materi harus dilakukan Pak Kiayi secara langsung baik materi aqidah, akhlak, piqih maupun tauhid maka laki-laki dan perempuan berada dalam satu ruangan besar dan tidak ada hijab disana. Walaupun masih terkendali tapi saya bisa tahu mana yang jadi objek obrolan santri-santri laki-laki.
Dari segi fisik, yang saya ingat adalah santri-santri harus mengambil wudlu di sebuah kolam besar bersama-sama dan dibelakang pesantren ada pekuburan. Saya ingat kerena satu sepupu saya sangat penakut dengan hal-hal yang berbau mistis padahal sering para kami dan temen-temen lain ngaliwet bareng di deket kuburan dengan modal ikan asin, beras hasil patungan, bahan sambel yang dipetik sendiri, daun pisang untuk alas nasi, dan tungku yang dibuat sendiri (istilahnya hawu). Asrama pria pun sebenarnya jauh dari kata layak. Jangan heran kalau anak pesantren familiar dengan istilah tumbila, koreng, dll. Karena memang fasilitas dibangun dengan modal dari santri yang berasal dari kalangan ekonomi rendah dan sangat jarang berasal dari hibah apalagi pemerintah.
Dari kesemua kegiatan yang tampak remeh tersebut sebetulnya saya meyakini bahwa itu membantu saya dalam pembentukan pribadi. Semua orang dapat bisa mendapatkan porsi yang berbeda dari apa yang mereka alami. Tapi saya merasakan bahwa lingkungan yang dialami di pesantren tradisional sangat humanis.